
Yogyakarta, verdiincontri Indonesia
—
Belasan orang berdiri sabar di bawah rindangnya pohon yang meredam sengatan matahari siang, Jumat (31/7). Dari anak muda hingga lanjut usia (lansia), mereka menanti suara gemericik dari sumber mata air alami ‘Sendang Wonosari’ di Dusun Kalidadap I, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Di tempat itulah, hari mereka nyaris selalu dimulai dan diakhiri.
Sembari mengobrol santai, sesekali tangan mereka mengurai selang-selang yang menjulur dari bibir sumber mata air. Tak ada yang tergesa. Para warga Kalidadap I dan II ini lantas mengambil selang masing-masing, bersiap mengalirkan air menuju rumah yang tersebar di lereng-lereng perbukitan kapur.
Air itu mengalir tanpa bantuan mesin ataupun pompa. Warga cukup menyedot ujung selang menggunakan mulut hingga air terdorong masuk ke dalam pipa plastik tersebut. Setelah itu, gaya gravitasi mengambil alih pekerjaan. Perbedaan ketinggian antara sumber mata air dan rumah-rumah warga membuat air terus mengalir ke bawah, melewati selang yang panjangnya bisa mencapai ratusan meter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara sederhana itu telah menjadi bagian dari keseharian warga selama puluhan tahun. Di kawasan yang belum terjangkau saluran PDAM, sumber mata air menjadi salah satu tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari minum, memasak, mandi, hingga kebutuhan ternak.
Saat musim kemarau tiba, debit air memang tak sebanyak ketika musim hujan. Warga harus lebih sabar menunggu giliran karena aliran air mengecil. Namun, keterbatasan itu tak pernah menjadi alasan untuk saling berebut.
Sedikitnya terdapat sekitar 80 selang yang menghubungkan sumber mata air dengan rumah-rumah warga. Masing-masing memiliki panjang berbeda, bergantung pada jarak rumah dari sumber air. Salah satu yang terpanjang adalah milik Teguh (27), warga Kalidadap I.
“Punya saya 12 roll [gulung selang], satu roll-nya 50 meter,” kata Teguh.
Teguh mengklaim selang miliknya merupakan yang terpanjang karena rumahnya berada paling jauh dibanding warga lainnya. Total panjang selangnya mencapai sekitar 600 meter, membentang mengikuti kontur jalan hingga tiba di rumahnya.
Rutinitas berkumpul di sekitar sumber air, kata Teguh, berlangsung setiap hari pada pukul 06.00, 08.00, dan 14.00 WIB. Waktu-waktu itu dimanfaatkan warga sebelum sebagian besar debit air dialihkan untuk mengairi lahan pertanian di lereng bawah.
“Kalau di sini, jam sekian ngumpul di sini. Nunggu kalau airnya sudah penuh, nanti kita sedot bersama-sama,” katanya.
Meski tampak mudah, mengalirkan air menggunakan selang ternyata membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Air tidak akan mengalir lancar jika sambungan-sambungan selang dibiarkan terpasang sejak awal. Karena itu, warga harus melepas setiap sambungan terlebih dahulu agar udara di dalam selang keluar dan air bisa melaju lebih cepat.
“Jadi setiap sambungan selang itu perlu diputus [dilepas] dulu. Kalau nggak gitu, nanti airnya nggak sampai atau
ngalirnya
lambat. Kalau sudah ngalir, baru sambung lagi,” kata Teguh.
Siang itu, beberapa warga tampak mondar-mandir mengikuti jalur selang mereka. Ada yang kembali ke titik sambungan karena air ternyata belum juga sampai ke rumah. Beruntung setiap selang telah diberi tanda, sehingga pemiliknya dapat langsung mengenali mana miliknya di antara puluhan selang yang saling bersilangan.
Bagi Teguh, rutinitas itu kadang menghadirkan pengalaman yang merepotkan sekaligus menggelikan. Pernah suatu ketika bak penampungan air di rumahnya benar-benar kosong saat ia sedang ingin buang air. Tak ada pilihan selain kembali mendaki ke sumber mata air untuk menyedot selang dari awal.
“Iya, repot juga kalau pas seperti itu,” katanya sambil terkekeh.
Tak jauh dari Teguh, Sagi (72), warga Kalidadap I, juga sibuk memeriksa selang miliknya. Total ia memiliki enam gulung selang. Di usianya yang tak lagi muda, langkahnya masih mantap menyusuri jalan setapak yang menanjak dan menurun, memastikan air benar-benar mengalir menuju rumah.
Sesekali ia meraba permukaan selang. Ketika terasa dingin, itu menjadi pertanda air telah bergerak di dalamnya. Waktu itu jarum jam hampir menunjukkan pukul 15.00 WIB, saat sebagian besar aliran air akan dialihkan untuk kebutuhan irigasi pertanian.
Setibanya di rumah, Sagi mengangkat ujung selang dan memastikan air mengucur keluar. Setelah itu, selang dimasukkan ke dalam tembikar tua yang digunakan sebagai penampungan air minum ternak.
“[Sedot air pakai selang] sudah dari tahun ’77,” ujar Sagi.
Selama hampir setengah abad, selang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Ia tak melihat rutinitas itu sebagai beban. Baginya, selang itulah yang membawa air dari lereng bukit hingga memenuhi kebutuhan keluarganya setiap hari.
“Di sana [sumber air] nggak pernah kering, tetap ada airnya. Ya jalan kaki itu cuma buat lihat airnya aja, disedot susah atau nggak. Cuma pas musim hujan bedanya bisa luber-luber,” ucap Sagi.
Bagi Sagi, perjalanan naik turun menuju sumber air justru menjadi bagian dari hidup yang ia syukuri. Langkah-langkah yang setiap hari mengantarnya memeriksa aliran air bukan hanya memastikan kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi, tetapi juga menjadi cara sederhana menjaga tubuhnya tetap bugar.
“[Jalan] mondar-mandir juga sehat, alhamdulillah. Semua berjalan, bisa buat hidup, tidak perlu bergantung pada orang lain,” ucapnya.
Alternatif sumur bor
Suroso (31), Kepala Dusun Kalidadap II menyebut ada sekitar 330 KK di wilayahnya. Demikian pula di Kalidadap I. Beberapa bisa memperoleh air dari membangun sumur dangkal di sekitar rumah. Tapi, sebagian lagi memang hanya bisa memperoleh air dari mata air Wonosari.
“Yang nggak pakai dari situ [Wonosari], biasanya pakai sumur dangkal. Bervariasi dalamnya, ada yang 8-10 meter,” kata Suroso.
Sejatinya, warga pernah punya sumur bor di Kalidadap II. Akan tetapi, karena penggunanya terlalu banyak, pompa ini akhirnya rentan mengalami kerusakan. Saking seringnya keluar biaya untuk perbaikan, dana pengelolaan akhirnya habis dan fasilitas ini kini tak bisa dipakai.
Suroso mengingat, pernah ada masa ketika kemarau berkepanjangan membuat persediaan air benar-benar menipis. Dalam situasi seperti itu, warga tidak memiliki banyak pilihan selain membeli air bersih secara swadaya atau mengajukan bantuan droping air.
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amrudin menyebut sudah ada tim yang survei ke lokasi Kalidadap. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Pemda DIY mengenai alternatif pembangunan sumur bor maupun Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
“Ini terbuka peluang, karena kami sudah komunikasi dengan BPBD DIY. Mungkin nanti bisa dibantu,” ujar Mujahid.
Bagian Separuh Hidup
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Menperin: Transformasi Elektrifikasi di RI Lebih Cepat dari Perkiraan
Baca lagi: Kubu Ruben Onsu Respons Sarwendah soal Anak Jadi Korban Bully
Baca lagi: Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas, Ini Tempat Parkir-Rekayasa Lalinnya



